Learned Helplessness

by Jefri

Belajar Untuk Tidak Berdaya

Secara singkat, learned helplessness adalah berusaha menanamkan kepercayaan pada diri sendiri bahwa apapun yang anda lakukan – tidak akan ada gunanya.

Kata kuncinya: Berusaha. Jadi ini bukan tindakan yang sifatnya pasif, tapi secara aktif dilakukan oleh diri sendiri. Lho kok ada orang yang “usaha” untuk jadi “tak berdaya”?

Studi ilmiah menunjukkan, saat menghadapi situasi sulit dan tantangan yang keras, ternyata sebagian orang “belajar” untuk tak berdaya. Proses “belajar” ini membuat orang-orang tersebut menghasilkan kinerja lebih jelek dari yang seharusnya mereka bisa.

Fenomena learned helplessness ini sejak lama telah dipelajari – dimulai dari dunia binatang.

1. Percobaan dengan tiga ekor anjing.

Pada tahun 1960-an, Martin Seligman, peneliti psikologi dari University of Pennsylvania melakukan percobaan dua tahap pada anjing sebagai berikut.

Tahap 1.
Anjing 1 diberi kejutan listrik tapi diberi beberapa tombol acak untuk menghentikan kejutan tersebut. Saat tombol yang tepat tertekan, aliran listrik berhenti. Anjing 2 juga diberi kejutan listrik tapi tanpa metode apapun untuk menghentikannya. Anjing 3 tidak menjalani eksperimen (sebagai control group).

Tahap 2.
Ketiga anjing diberi kejutan listrik secara konstan. Anjing 1 dan 3 berusaha menekan semua tombol yang ada (dan mereka berhasil), anjing 2 hanya berbaring dan pasrah menerima kejutan-kejutan listrik karena ”tahu” semua upaya akan sia-sia saja.

2. Gajah Yang Dirantai

Seekor gajah yang dirantai kakinya selama bertahun-tahun, hanya mampu berjalan mengitari area tertentu disekitar rantainya. Setelah rantai tersebut dilepas, gajah itu tetap berjalan didalam area tersebut karena ia “tahu” tidak akan mampu keluar darinya.

3. Murid “Unggulan”.

Sekelompok anak-anak pintar dibagi menjadi dua kelas (A & B) dan dipisahkan selama satu semester. Mereka diajar oleh sebuah tim guru (yang didatangkan dari luar sekolah). Tim guru ini diberikan informasi bahwa kelas A terdiri dari anak-anak pintar, sedangkan kelas B kurang pintar (padahal anak-anak ini memiliki IQ yang rata-rata sama dan dipisahkan secara acak). Informasi ini ternyata mempengaruhi pola mengajar tim guru tersebut, sehingga di akhir semester, nilai rata-rata kelas A secara signifikan mengungguli kelas B.

4. Perenang Olympiade 1996

Tahun 1996, beberapa atlet renang Olympiade menjadi subjek penelitian dalam dua putaran tes renang 50 mt.

Pada putaran 1, catatan waktu tiap atlet secara sengaja ditambah 1.2 detik – tanpa sepengetahuan mereka. Beberapa perenang sangat shock dengan “hasil” tersebut.

Putaran 2, setengah dari perenang berenang lebih cepat dari putaran 1; sedang setengah lagi malah berenang lebih lambat dari rata-rata kecepatan mereka yang seharusnya. Kesimpulan: setengah dari perenang ini (yang lambat) memiliki gejala mirip fenomena learned helplessness.

Terakhir, pernah dengar cerita anak elang yang ditinggal induknya lalu dirawat oleh kawanan ayam? Hingga dewasa ia hanya bisa melihat ke angkasa dan berkhayal “Andai aku bisa seperti elang-elang itu, terbang bebas diangkasa…”. It’s a really sad story.

…So What?

Sebagaimana hal-hal lain dalam hidup, persepsi adalah kunci keberhasilan. Dan kegagalan.

1. Anak yang menjadi korban kekerasan rumah tangga, akan menganggap kekerasan adalah fakta hidup yang tak mungkin dihindarkan saat ia beranjak dewasa. Hal ini bahkan membuat ia menolak pertolongan orang lain untuk keluar dari situasi tersebut.
2. Orang yang mengalami depresi di masa lalu cenderung menerima depresi di masa depan, dan enggan untuk berbuat sesuatu untuk merubahnya.
3. Perokok yang melihat orang lain gagal berhenti merokok, akan menjadikannya pembenaran bahwa merokok memang tidak mungkin dihentikan.