Syair Lagu Indonesia

by Jefri

Saya kok merasa lagu-lagu generasi 80-an keatas dangkal benar syairnya. Kurang “nyeni”, tidak bisa menyentuh jiwa. Kalau saya mendengar lagu-lagu oldies [60-70an], terasa betul syair lagu itu menyampaikan perasaan pengarangnya dalam pilihan kata yang santun tapi kena [coba dengar album-album Ebiet atau Badai Pasti Berlalu-nya Chrisye].

Apa karena pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dianggap remeh? Murid-murid cuma disuruh menghapal, tidak seing disuruh mengarang, padahal di luar negeri tiap minggu murid-murid sekolah harus bikin tulisan. Ya tentang silsilah keluargalah, binatang kesayanganlah, hobi dan lain-lain. Mereka juga harus membaca dan mengulas karya-karya sastra negaranya.

Anyway, beberapa tahun lalu saya mendengar lagu berikut:

Hamparan langit maha sempurna
Bertahta bintang-bintang angkasa
Namun satu bintang yg bersinar
Teruntai turun menyapaku

[mahadewi, padi]

“Wah”, saya pikir, “Boleh juga nih: hamparan, tahta, teruntai – ini kan kata-kata ‘mahal’. Masih ada harapan muncul generasi band baru yang bisa mengeksploitasi keindahan bahasa Indo-Melayu kita”. Besarlah hati saya.

Eh, belakangan saya dengar kabar lagu ini ternyata syairnya dikarang oleh Rendra [?].

Buset dah….