Posted on March 18, 2008 by Jefri
HARI INI, SUAMIMU BERJANJI
(Puisi hari pernikahanku: Jakarta, delapanbelas maret ‘01)
Bismillah,
Hari ini aku melengkapi takdir sebagai manusia
Menikahi wanita tercinta, kekasih hati yang mulia, pemilik separuh jiwa
Dan hari ini pula
Atas nama cinta, aku janjikan padanya
Persahabatan yang tiada mengenal akhir
Curahan kasih sayang tiada putus-putusnya
Perlindungan dari apapun yang mencederai
Bimbingan dan tuntunan dalam menempuh hidup
Semua yang akan kuberi untuknya
Adalah penyerahan diri yang tuntas tanpa cela
Hasil usaha sepenuh hati seorang suami
Maka aku mohon, terimalah dengan ikhlas hati
Hari ini aku berjanji pada Dia Yang Berkuasa Mencipta
Hanya air mata bahagia yang akan membasahi wajahnya
Tak akan pernah aku sakiti badannya
Tak akan pernah aku sakiti hatinya
Terimalah janjiku, istri tercinta
JY ‘tuk NK
20-Jan-01
Filed under: Family | Tagged: personal | 2 Comments »
Posted on February 26, 2008 by Jefri
Paragraf pertama tulisan ini adalah teguran halus seorang sahabat.
Mari jadikan tamparan.
Korea Saja Bisa, Apalagi Indonesia
Sabtu, 26 januari 2008 | 02:17 WIB
Koh Young Hun
Tiga puluh tahun yang lalu, saya mendengar dari profesor saya di ruang kelas bahwa Indonesia merupakan negara yang berpotensi tinggi, karena sumber daya alam dan manusianya begitu kaya. Tiga puluh tahun sudah lewat, dan saya sudah menjadi profesor. Saya masih juga mengatakan kepada murid-murid saya bahwa Indonesia negara besar dan berpotensi tinggi dengan alasan yang sama.
Read more »
Filed under: Renungan | Tagged: etos kerja, Indonesia, korea | 2 Comments »
Posted on December 13, 2007 by Jefri
Belajar Untuk Tidak Berdaya
Secara singkat, learned helplessness adalah berusaha menanamkan kepercayaan pada diri sendiri bahwa apapun yang anda lakukan – tidak akan ada gunanya.
Kata kuncinya: Berusaha. Jadi ini bukan tindakan yang sifatnya pasif, tapi secara aktif dilakukan oleh diri sendiri. Lho kok ada orang yang “usaha” untuk jadi “tak berdaya”?
Read more »
Filed under: Renungan | Tagged: Life, personal improvement | 2 Comments »
Posted on November 30, 2007 by Jefri
Beberapa hari lalu teman saya di milis mengirim satu cerita tentang ini:
Ada eksekutif muda yang ingin membeli kambing kategori SUPER untuk kurban seharga 2 juta, tapi masih ngotot untuk menawarnya 1.5 juta lalu 1.75 juta. Tapi penjual bersikeras tidak menurunkan harga. Hingga kemudian seorang bapak pensiunan pegawai negeri turun dari sepeda bututnya dan berkata “Biar saya saja yang beli. Saya mau kurban kambing terbaik tahun ini. Kebetulan duitnya ada nih..” Nah, si eksekutif muda pun malu, karena untuk kurban pun, dia masih tawar-menawar harga kambing.
Dari alur ceritanya, ada kesan cara si Bapak-lah yang benar.
Menurut saya kok tidak.
Si Bapak, lebih kurang, telah bertindak zalim terhadap fakir miskin.
Read more »
Filed under: Renungan | 5 Comments »
Posted on November 15, 2007 by Jefri
Saya kok merasa lagu-lagu generasi 80-an keatas dangkal benar syairnya. Kurang “nyeni”, tidak bisa menyentuh jiwa. Kalau saya mendengar lagu-lagu oldies [60-70an], terasa betul syair lagu itu menyampaikan perasaan pengarangnya dalam pilihan kata yang santun tapi kena [coba dengar album-album Ebiet atau Badai Pasti Berlalu-nya Chrisye].
Read more »
Filed under: Bahasa & Sastra, Musik | Leave a Comment »