Sekilas CMMI

by Jefri

CMMI staged representation

Sebentar lagi ada pekerjaan besar di kantor terkait CMMI, semoga lancar dan memberi manfaat yang diharapkan…

1. Apa itu CMMI?

Capability Maturity Model Integration for Development (CMMI Dev)[1] adalah sebuah model peningkatan proses (process improvement model) yang bertujuan membantu organisasi dalam meningkatkan kinerjanya. CMMI dapat menjadi acuan peningkatan proses bagi penyediaan produk dan layanan di tingkat proyek, divisi bahkan seluruh organisasi. CMMI terdiri atas kumpulan best practices yang menggambarkan karakteristik dari sebuah peningkatan proses yang efektif.

Model CMMI dikembangkan oleh para ahli yang mewakili industri, pemerintah dan Software Engineering Institute (SEI) yang mendapat penugasan dari Departemen Pertahanan (DoD) Amerika Serikat untuk mengatasi the software crisis[2] dalam kontrak-kontrak pengembangan perangkat lunak militernya. CMMI pertama kali dirilis pada 2002 (versi 1.1) menggantikan model CMM sebelumnya. Pada saat ini yang berlaku adalah versi 1.3.

2. CMMI adalah model, bukan standar. Apa maksudnya?

Suatu kesalahan umum yang paling sering dijumpai dan berakibat pada gagalnya implementasi CMMI adalah menganggapnya sebagai sebuah standar, sebuah kitab suci. Bukan. CMMI adalah sebuah process improvement model. Ia adalah model untuk peningkatan proses, bukan standar atau bahkan proses itu sendiri.

Sebuah model adalah representasi dunia nyata yang digunakan sebagai alat untuk belajar, berkomunikasi dan mengorganisasikan pemikiran/ide. Di sisi lain, standar berisi rangkuman persyaratan yang harus dipenuhi secara ketat dan patuh (comply). Sebuah model membutuhkan interpretasi berdasarkan kondisi dan situasi aktual sehingga membuka ruang untuk variasi dalam implementasinya, sedangkan standar bersifat kaku dan menuntut implementasi yang “semirip” mungkin[3].

Memberlakukan CMMI sebagai sebuah manual book, yaitu dengan mengaplikasi semua best practices yang ada tanpa mempertimbangkan konteks organisasi, berarti memperlakukan CMMI sebagai standar dan hanya akan berdampak negatif terhadap upaya peningkatan di organisasi tersebut. Ciri khas organisasi seperti ini adalah sering dijumpainya jargon “…karena CMMI bilang begitu”, dalam kosa kata internalnya.

 

3. Apa manfaat implementasi CMMI bagi perusahaan dan industri?

Secara berkala, SEI melakukan riset untuk mengukur manfaat implementasi CMMI pada bisnis[4]. Hasilnya, implementasi CMMI yang tepat memang berhasil meningkatkan kinerja organisasi dari sisi biaya, waktu, mutu, kepuasan pelanggan dan return on investment (ROI).

Performance Results Summary (SEI Data)

Improvements

Median

# of data
points

Low

High

Cost

20%

21

3%

87%

Schedule

37%

19

2%

90%

Productivity

62%

17

9%

255%

Quality

50%

20

7%

132%

Customer Satisfaction

14%

6

-4%

55%

Return on Investment

4.7 : 1

16

2 : 1

27.7 : 1

·  N = 25, as of 15 December 2005
·  Organizations with results expressed as change over time
“CMMI Version 1.2 and Beyond”, December 15, 2005. Mike Phillips, Software Engineering Institute, Carnegie Mellon University http://www.sei.cmu.edu/cmmi/results.html

 Gambar 1. Contoh hasil riset SEI mengenai manfaat CMMI

 

Disamping itu, implementasi CMMI juga berdampak positif terhadap citra dan peluang pemasaran yang lebih besar. Beberapa perusahaan/institusi kelas dunia telah menjadikan CMMI ML3 sebagai prasyarat bagi pemasok utamanya. CMMI juga dapat menjadi sumber prestise dan kebanggaan bagi perusahaan dan karyawan yang ada didalamnya.

 

4. Apa yang dimaksud dengan “level” dalam CMMI?

Dalam mengimplementasi dan menafsirkan model CMMI, dapat ditempuh dua pendekatan (representasi) yang berbeda: continous atau staged. Pendekatan continous ditempuh bila upaya peningkatan difokuskan pada proses tertentu saja, sedangkan pendekatan staged dirancang sebagai suatu tahapan-tahapan baku bagi peningkatan sekumpulan proses dalam sebuah organisasi. Seberapa jauh organisasi mencapai goals yang sudah ditentukan dalam CMMI diukur menggunakan level.

Pendekatan continous menghasilkan capability level (CL 0-3) untuk process area (PA) tertentu, sedangkan staged menghasilkan maturity level (ML 1-5) untuk sekumpulan PA.

Penjelasan lebih lanjut tentang maturity level (staged).

Pengalaman menunjukkan bahwa organisasi akan lebih berhasil bila memfokuskan inisiatif peningkatannya pada proses atau area tertentu, sebelum bergerak ke proses atau area yang lebih lanjut. Terdapat 22 PA didalam CMMI yang dikelompokkan kedalam lima tingkatan (level) yang menggambarkan tingkat kematangan sebuah organisasi. Gambar 2 berikut berisi penjelasan dan karakteristik umum dari sebuah organisasi berdasarkan definisi level yang dikembangkan dalam CMMI.

Setiap ML dalam CMMI harus ditempuh agar dapat menjadi dasar bagi pencapaian level berikutnya, antara lain karena beberapa PA di level lebih rendah menjadi prasyarat bagi terlaksananya PA-PA di level lebih tinggi[5].

Rincian  ML dan PA-PA dalam CMMI dapat dilihat pada Lampiran 1.

ML 5 Optimized Pada ML5, organisasi terus-menerus memperbaiki proses-prosesnya berdasarkan pemahaman kuantitatif terhadap penyebab umum (common causes) variasi proses, secara bertahap (incremental) maupun radikal.
ML 4 Quantitatively Managed Pada ML4, organisasi dan proyek menetapkan target kuantitatif untuk kinerja proses dan kualitas produk sebagai kriteria dalam mengelola proses. Kinerja proses dan kualitas bisa diprediksi secara kuantitatif.
ML 3 Defined Pada ML3, proses dipahami dengan baik dan dijabarkan dalam standar, prosedur, tools, dan metode kerja. Setiap proyek menyusun prosesnya dengan mengacu pada standar organisasi, sehingga menjamin konsistensi pelaksanaan.
ML 2 Managed Pada ML 2, masing-masing proyek dalam berjalan berdasarkan proses-proses yang sudah direncanakan dan sesuai dengan kebijakan; menggunakan sumber daya yang kompeten dan cukup untuk menghasilkan output yang terkendali. Status pekerjaan dan hasilnya dapat dipantau oleh manajemen pada tahapan-tahapan tertentu.
ML 1 Initial Pada ML 1, proses biasanya bersifat ad hoc dan kacau. Organisasi tidak menyediakan lingkungan yang stabil untuk mendukung proses. Sukses ditentukan oleh kompetensi dan heroisme orang-orang dalam organisasi. Walaupun  mampu menghasilkan produk atau layanan yang baik, namun proyek melebihi anggaran ataupun tenggat waktu yang dijanjikan.

 

Gambar 2. Maturity level CMMI dan karakteristik organisasi yang diharapkan

5. Apakah ada perusahaan Indonesia yang sudah mengimplementasikan CMMI?

Ya, antara lain:

  1. PT. Sigma Karya Sempurna (BaliCamp) telah melalui appraisal CMMI-DEV v1.1 dan mendapat predikat maturity level (ML) 3 pada 2006 dan berlaku hingga 2009.
  2. Bank Danamon, Divisi IT – Transaction Systems and Electronic Channels telah melalui appraisal CMMI-DEV v1.2 dan mendapat predikat ML4 pada 2009 dan berlaku hingga 2012[6].

 

6. Bagaimana mendapatkan “sertifikasi” CMMI? Seberapa cepat?

Sebenarnya CMMI tidak mengenal istilah sertifikasi, yang ada hanyalah penilaian (appraisal) suatu perusahaan sudah mencapai tingkat maturity/capability level berapa. Appraisal tersebut dilakukan oleh tim penilai yang dipimpin oleh SEI-authorized lead appraiser.

Seberapa cepat suatu perusahaan mendapatkan tingkat penilaian untuk ML tertentu benar-benar bergantung pada perusahaan itu sendiri, antara lain:

  • Kesenjangan antara model CMMI dengan proses-proses internal perusahaan
  • Seberapa besar komitmen perusahaan
  • Toleransi dan kemampuan untuk mengimplementasi perubahan
  • Pemahaman perusahaan terhadap process improvement secara umum dan CMMI secara khusus
  • Cakupan unit/bagian/departemen yang terlibat.

 

7. Apakah appraisal CMMI diterapkan untuk seluruh organisasi ataukah sebagian unit bisnis saja?

Dalam appraisal CMMI, bagian organisasi yang hendak dinilai disebut dengan Organizational Unit (OU). OU bisa merupakan keseluruhan organisasi atau sebagian saja (misal: departemen, divisi, unit/sektor bisnis, lokasi, program atau segmen) tergantung dari tipe “proyek” yang hendak dinilai yang ditentukan oleh organisasi.  Appraisal CMMI dilakukan hanya pada proyek yang dilakukan dalam OU tersebut. Rincian OU ini juga akan diumumkan sebagai bagian dari appraisal.

 

 

8. Benarkah CMMI hanya berlaku untuk industri “software” saja?

CMMI memang dikembangkan oleh Software Engineering Institute (SEI). Tetapi CMMI sebagai suatu model peningkatan proses dapat diadaptasi ke berbagai jenis industri lainnya, termasuk diantaranya industri penerbangan, perbankan, perangkat keras komputer, manufaktur otomotif dan telekomunikasi[7].

 

9. Berapa banyak perusahaan yang telah menggunakan CMMI?

Lebih dari 5000 perusahaan di 70 negara yang telah menggunakan model CMMI, termasuk U.S, China, Jerman, Italia, Chilli, India, Australia, Mesir, Turki dan Rusia. Selain itu ada juga perusahaan yang menggunakan CMMI tetapi tidak terdaftar di SEI.

10. Apa yang dimaksud dengan istilah generic Goals, Generic Practices, Specific Goal dan Specific Practices dalam CMMI?

Generic Goals (GG) menggambarkan karakteristik yang harus ada di suatu organisasi untuk melembagakan (institutionalizing) sebuah proses atau PA. Tanpa pelembagaan, proses-proses yang susah payah dikembangkan, disosialiasikan dan dijalankan dapat begitu saja hilang seiring berjalannya waktu. Setiap maturity level (ML) dalam CMMI memiliki GG-nya masing-masing, dan berlaku untuk semua PA di ML tersebut. GG bersifat kumulatif, sehingga memenuhi GG 3 berarti juga harus telah memenuhi GG2.

Generic practices (GP) adalah best practices yang dilakukan untuk mencapai GG.

Specific goals (SG) menggambarkan karakteristik tertentu yang harus ada untuk memenuhi suatu PA.

 

Specific practices (SP) adalah best practices yang dilakukan untuk mencapai SG. Dalam praktiknya, organisasi dapat melakukan hal-hal selain SP dalam upayanya memenuhi SG. Hal ini dibolehkan dan disebut alternative practices.

11. Bagaimana keterkaitan antara keempat hal ini (GG, GP, SG, SP)?

Keterkaitan antara keempat hal tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Dalam rangka memperbaiki proses perencanaan proyeknya, sebuah perusahaan menggunakan model CMMI dengan pendekatan continous, yaitu mengacu pada PA Project Planning. Untuk itu, perusahaan tersebut mencoba mengidentifikasi apa yang harus ada dalam perencanaan proyek, (SG) di CMMI yang meliputi: membuat estimasi, menyusun rencana proyek dan mendapatkan komitmen dari semua pihak yang terlibat. Dalam hal membuat estimasi, disusun proses rinci yang menjelaskan bagaimana mengidentifikasi ruang lingkup proyek, menghitung effort, waktu dan jumlah personil yang harus ada (SP).

Agar proses perencaan proyek ini dapat mengakar/melembaga dalam perusahaan (GG), tidak hanya dilakukan di satu-dua proyek dalam rentang waktu tertentu saja, manajemen mengeluarkan policy (GP 2.1) bahwa setiap proyek wajib membuat dokumentasi rencana proyek sesuai standar. Kelas-kelas pelatihan bertopik “Perencanaan dan Pengelolaan Proyek” diadakan dan diikuti setiap calon project manager (GP 2.5). Status implementasi proses baru ini dilaporkan dalam rapat direksi setiap bulan (GP 2.10) untuk memantau kekurangan/kelebihannya.

Rincian GG dan GP untuk tiap ML dapat dilihat pada Lampiran 2.

12. Dimana dokumen CMMI-DEV v1.3 ini bisa dibeli/diperoleh?

Model ini dituangkan dalam bentuk technical report oleh SEI dan dapat diunduh secara gratis di http://www.sei.cmu.edu/library/abstracts/reports/10tr033.cfm.

 

Salah satu milis yang aktif membahas mengenai CMMI dan implementasinya adalah cmmi_process_improvement@yahoogroups.com.

 

_____________Update  1 November 2013:

He..he..he

CMMI Certificate


[1] Dikenal tiga model CMMI pada saat ini yaitu development, services dan acquisition, namun yang dimaksud dengan ”CMMI” dalam dokumen ini adalah CMMI for Development Ver 1.3.

[2] Fenomena yang sering ditemui pada proyek-proyek pengembangan software: terlambat, melebihi anggaran, bermutu rendah, tidak sesuai requirement, sulit dikelola, gagal sama sekali. Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Software_crisis

[3] Sumber: Hillel Glazer, Jeff Dalton. “CMMI or Agile: Why Not Embrace Both!”, Software Engineering Institute, November 2008.

[5] Sebagai contoh: PA Causal Analysis and Resolution (CAR, L5) tidak mungkin dilakukan tanpa Organizational Process Performance (OPP, L4). Sedangkan OPP didukung oleh Organizational Process Focus (OPF, L3) yang menggunakan informasi yang didapat dari Measurement and Analysis (MA, L2).

[7] CMMI® for Development, Version 1.3, halaman 7

About these ads